Jumat, 01 Mei 2026

Jeritan yang Tak Pernah Usai di Tengah Mesin Kapitalisme




Setiap tanggal 1 Mei, dunia seolah berhenti sejenak untuk mengingat satu kelompok yang selama ini justru membuat dunia terus bergerak: buruh. Namun, di balik seremoni, spanduk, dan orasi yang menggema di jalanan, ada satu pertanyaan yang terus menghantui apakah Hari Buruh benar-benar menjadi simbol kemenangan, atau justru pengingat bahwa perjuangan masih jauh dari selesai?

Sejarah telah mencatat bahwa Hari Buruh lahir dari darah dan perlawanan. Ia bukan hadiah dari kekuasaan, melainkan hasil dari benturan keras antara mereka yang menindas dan mereka yang ditindas. Delapan jam kerja yang hari ini dianggap wajar, dahulu adalah tuntutan radikal yang harus dibayar dengan nyawa. Maka, setiap peringatan Hari Buruh sejatinya bukan sekadar nostalgia sejarah, tetapi panggilan untuk melanjutkan perlawanan.

Namun, realitas hari ini menunjukkan ironi yang menyakitkan. Di tengah kemajuan teknologi dan pertumbuhan ekonomi yang kerap dibanggakan, buruh justru sering menjadi korban paling sunyi. Upah yang stagnan, jam kerja yang fleksibel namun eksploitatif, serta ketidakpastian kerja dalam sistem kontrak dan outsourcing, adalah wajah baru dari penindasan yang lebih halus namun tidak kalah kejam.

Kapitalisme modern telah berevolusi. Ia tidak lagi selalu hadir dalam bentuk pabrik-pabrik berasap dengan jam kerja panjang yang kasat mata. Kini, ia bersembunyi di balik istilah “efisiensi”, “fleksibilitas”, dan “daya saing global”. Buruh didorong untuk bekerja lebih keras dengan iming-iming produktivitas, namun hasilnya justru semakin menjauh dari kesejahteraan. Mereka bekerja bukan untuk hidup, melainkan hidup untuk bekerja.

Lebih tragis lagi, sistem ini seringkali membuat buruh kehilangan kesadaran kolektifnya. Individualisme dipupuk, solidaritas dilemahkan. Buruh tidak lagi melihat dirinya sebagai bagian dari kelas yang sama, melainkan sebagai individu yang harus bertahan sendiri dalam kompetisi yang tidak adil. Inilah kemenangan paling halus dari sistem: ketika yang tertindas tidak lagi menyadari bahwa dirinya sedang ditindas.

Hari Buruh seharusnya menjadi momentum untuk membongkar ilusi tersebut. Ia harus menjadi ruang kesadaran, bahwa ketidakadilan bukanlah takdir, melainkan hasil dari sistem yang bisa dilawan dan diubah. Perjuangan buruh bukan hanya tentang upah, tetapi tentang martabat manusia. Tentang hak untuk hidup layak, bekerja dengan adil, dan diperlakukan sebagai manusia, bukan sekadar alat produksi.

Di Indonesia, suara buruh seringkali hanya terdengar setahun sekali, lalu kembali tenggelam dalam hiruk-pikuk politik dan ekonomi. Padahal, persoalan yang mereka hadapi tidak pernah berhenti. Dari upah minimum yang diperdebatkan setiap tahun, hingga gelombang pemutusan hubungan kerja yang terus menghantui, buruh selalu berada di posisi paling rentan.

Maka, Hari Buruh tidak boleh berhenti sebagai seremoni. Ia harus menjadi api. Api yang membakar kesadaran, menghidupkan solidaritas, dan mendorong perubahan. Karena selama masih ada ketimpangan, selama masih ada eksploitasi, selama buruh masih diperas tenaganya tanpa keadilan—selama itu pula Hari Buruh adalah hari perlawanan.

Pada akhirnya, Hari Buruh bukan tentang masa lalu. Ia adalah tentang hari ini, dan masa depan yang ingin diperjuangkan. Sebab dunia yang adil tidak akan lahir dari diam, melainkan dari suara-suara yang berani melawan.

Selamat Hari Buruh.

Bukan untuk merayakan, tapi untuk mengingat—bahwa perjuangan belum selesai.

Selasa, 09 September 2025

Organisasi Eksternal: Oase Di Tengah Tandusnya Pembelajaran Kampus

 



ORGANISASI EKSTERNAL: OASE DITENGAH HANGUSNYA PEMBELAJARAN KAMPUS

by:aktorpergerakan

Ruang belajar di kampus digembar-gemborkan melimpah, mulai dari ruang kelas, seminar, hingga berbagai organisasi mahasiswa. Namun, klaim itu hanyalah bualan kosong. Pada kenyataannya, efektivitas ruang-ruang tersebut, terutama organisasi internal, sering kali jauh dari harapan. Organisasi internal kampus hanya menjadi wadah untuk menampung mahasiswa yang terpaksa bergabung demi formalitas, bukan untuk mengasah potensi. Tanpa komitmen dan bimbingan yang serius dari para pembina, organisasi-organisasi ini hanya menjadi macam kertas yang tidak berdaya.

Berbeda jauh dengan itu, organisasi eksternal menawarkan jalan yang berliku namun menjanjikan. Mereka tidak mencari kuantitas, melainkan kualitas. Proses pengkaderan yang ketat menjadi tembok pemisah antara mereka yang serius dan mereka yang hanya iseng. Mereka yang berhasil melewati proses ini adalah individu-individu terpilih yang memiliki komitmen dan militansi tinggi. Tidak heran jika kualitas sumber daya manusia yang dihasilkan jauh melampaui produk-produk organisasi internal kampus yang instan.

Ironisnya, di saat banyak kampus gagal menjalankan fungsinya, organisasi eksternal justru menjadi tumpuan harapan. Terutama bagi kampus-kampus yang sistemnya bobrok dan minim fasilitas. Mereka memungut biaya mahal, namun gagal menyediakan ruang bagi mahasiswanya untuk berkembang. Alih-alih mencetak sarjana mumpuni, kampus-kampus ini malah melahirkan generasi yang jauh dari kata siap. Sebuah kerugian besar bagi mahasiswa yang sudah mengorbankan segalanya, dan kerugian yang tak terperikan bagi bangsa ini.

Di sinilah letak perlawanan yang sesungguhnya. Ketika ruang-ruang formal tidak lagi berfungsi, organisasi eksternal menjadi satu-satunya benteng pertahanan bagi mahasiswa yang haus akan ilmu dan pengalaman. Buktinya nyata, banyak mahasiswa yang memilih untuk tidak aktif di kelas, namun justru tumbuh subur dalam pengkaderan organisasi eksternal. Secara kualitas, mereka bahkan bisa menandingi, bahkan mengungguli, mahasiswa yang hanya sibuk pulang-pergi kuliah setiap hari tanpa menghasilkan apa-apa. Ini adalah tamparan keras bagi sistem pendidikan yang telah gagal mewadahi potensi mahasiswanya sendiri.

#ormek

#pmii

#kampus

#aktivis

#organisasiekstrakampus

Jumat, 30 Mei 2025

Manifestasi Peran Kader Mujahid dalam Menjawab Tantangan Organisasi

 


Manifestasi Peran Kader Mujahid dalam Menjawab Tantangan Organisasi

By: Hanif Muzaki


Dalam dinamika gerakan kemahasiswaan, khususnya dalam tubuh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), eksistensi kader menjadi pilar utama dalam menjawab tantangan organisasi. Di antara tahapan kaderisasi, kader mujahid memiliki posisi strategis yang tidak hanya dituntut untuk memahami nilai-nilai ke-PMII-an dan keislaman, tetapi juga mampu memanifestasikannya dalam tindakan nyata. Kader mujahid merupakan pribadi yang telah melewati proses pembentukan kesadaran ideologis dan memiliki komitmen tinggi terhadap perjuangan, sehingga diharapkan mampu menjadi motor penggerak dalam menjawab berbagai problematika internal dan eksternal organisasi.

Tantangan yang dihadapi PMII saat ini sangat kompleks, mulai dari krisis kaderisasi, melemahnya ideologisasi, hingga tantangan zaman yang sarat dengan disrupsi teknologi dan pergeseran nilai-nilai sosial. Dalam konteks ini, peran kader mujahid harus dimaknai secara aktif dan progresif. Manifestasi dari peran ini dapat terlihat dalam beberapa aspek: pertama, kader mujahid harus menjadi agen transformasi pemikiran. Mereka harus mampu menjadi penggagas ide-ide segar yang mampu menjawab tantangan zaman tanpa kehilangan akar ideologisnya, yakni Ahlussunnah wal Jama’ah An-Nahdliyah dan nilai-nilai dasar PMII.

Kedua, kader mujahid harus tampil sebagai penggerak perubahan di tingkat basis. Tidak cukup hanya berpikir dan berdiskusi di ruang-ruang intelektual, mereka juga harus terjun langsung ke tengah masyarakat, membawa semangat perubahan dan menjadi solusi atas persoalan-persoalan sosial. Kepekaan sosial dan keberpihakan kepada kaum mustad'afin menjadi ciri penting dari kader mujahid yang sejati.

Ketiga, dalam ranah organisasi, kader mujahid berperan menjaga marwah organisasi. Mereka harus mampu menjadi garda terdepan dalam menjaga integritas, disiplin, dan militansi organisasi. Peran ini juga mencakup kemampuan untuk menyelesaikan konflik internal dengan bijak, menjaga soliditas kader, serta memastikan arah gerak organisasi tetap konsisten pada tujuan perjuangan.

Di era digital, kader mujahid juga dituntut untuk melek teknologi dan informasi. Mereka harus mampu menggunakan media digital sebagai alat dakwah dan perjuangan. Narasi-narasi kebangsaan, keislaman, dan keadilan sosial harus terus digaungkan oleh kader mujahid sebagai bagian dari ikhtiar menjaga kesadaran kolektif di tengah derasnya arus informasi yang sering kali menyesatkan.

Akhirnya, kader mujahid bukan hanya simbol jenjang kaderisasi, melainkan manifestasi nyata dari semangat perlawanan terhadap kebodohan, ketertinggalan, dan ketidakadilan. Dalam menjawab tantangan organisasi, mereka tidak hanya bekerja di bawah panji PMII, tetapi juga membawa misi kemanusiaan dan keislaman yang universal. Oleh karena itu, kader mujahid harus terus membekali diri dengan ilmu, memperkuat spiritualitas, dan mengasah militansi, agar mampu menjadi jawaban atas setiap tantangan yang dihadapi organisasi kini dan nanti.


#putraputribangsabebasmerdekasalampergerakan

#ManifestasiPeranKaderMujahiddalamMenjawabTantanganOrganisasi


Rekonstruksi Nilai dan Karakter Kader Mujahid sebagai Episentrum Organisasi PMII

 




Rekonstruksi Nilai dan Karakter Kader Mujahid sebagai Episentrum Organisasi PMII


Karya:

Hanif Muzaki

Kader Komisariat Ki Patih Sampun Pemalang

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) lahir sebagai jawaban atas kebutuhan zaman—membentuk manusia merdeka yang berlandaskan Islam Ahlussunnah wal Jama’ah dan berwatak progresif-transformatif. Di tengah arus perubahan sosial, budaya, dan politik yang begitu dinamis, PMII dituntut untuk terus beradaptasi tanpa kehilangan identitas. Dalam konteks inilah, keberadaan kader mujahid menjadi sangat penting sebagai episentrum kekuatan organisasi, sekaligus penggerak utama arah gerakan.

Kader mujahid adalah sosok yang tidak hanya selesai dengan proses formal kaderisasi seperti MAPABA dan PKD, tetapi telah melewati pendalaman ideologi, penempaan watak, serta internalisasi nilai-nilai perjuangan. Mereka adalah representasi ideal kader PMII: memiliki spiritualitas kuat, intelektualitas tajam, dan keberpihakan sosial yang jelas. Namun, realitas hari ini menunjukkan bahwa tidak semua kader mujahid benar-benar mencerminkan kualitas tersebut. Karena itu, perlu dilakukan rekonstruksi nilai dan karakter agar kader mujahid kembali menjadi pusat gravitasi organisasi.

Rekonstruksi nilai dimulai dengan merawat kembali fondasi ideologis PMII, yakni Aswaja sebagai manhajul fikr, dan nilai-nilai dasar pergerakan (NDP). Di era digital yang serba instan, banyak kader terjebak pada aktivitas struktural tanpa penguatan nilai. Kader mujahid harus diarahkan untuk tidak hanya memahami Aswaja dalam tataran tekstual, tetapi juga menerapkannya dalam sikap moderat, toleran, dan inklusif di tengah masyarakat yang plural.

Selain itu, karakter kader mujahid juga perlu diperkuat melalui praktik gerakan yang konsisten. Nilai seperti ijtihad, ta'awun, dan tawazun harus dihidupkan dalam keseharian organisasi, bukan hanya menjadi jargon. Karakter militan bukan berarti keras dan kaku, tetapi teguh dalam prinsip dan solutif dalam tindakan. Inilah karakter yang akan membedakan kader mujahid dengan kader administratif biasa.

Sebagai episentrum organisasi, kader mujahid juga harus menjadi motor intelektual di tengah ruang publik. PMII tidak boleh hanya menjadi organisasi pengelola acara dan kepengurusan belaka. Kader mujahid harus tampil sebagai penulis, pembicara, pemikir, dan pelaku perubahan. Ruang-ruang kajian, diskusi kritis, dan karya ilmiah harus dihidupkan kembali sebagai media pengasahan ide dan pematangan gagasan.

Namun, semua ini tidak akan berjalan tanpa peran struktur organisasi dalam menyiapkan ekosistem kaderisasi yang sehat. Komisariat dan cabang harus memberi ruang kader mujahid untuk tumbuh, berkreasi, dan diuji gagasannya. Budaya feodalisme struktural yang hanya menurunkan "titah" harus ditinggalkan. Organisasi yang sehat adalah organisasi yang memberi ruang dialog, kritik, dan apresiasi terhadap karya kadernya.

Rekonstruksi nilai dan karakter kader mujahid bukanlah pekerjaan satu malam. Ia adalah proses panjang yang memerlukan kesabaran, konsistensi, dan kesadaran kolektif. Namun jika berhasil, PMII tidak hanya akan melahirkan pemimpin struktural, tetapi pemimpin peradaban.


#salampergerakan

#puterabangsabebasmerdeka

Selasa, 20 Mei 2025

Peran Gen Z dalam Mengupas Masalah Kesenjangan Sosial




 Peran Gen Z dalam Mengupas Masalah Kesenjangan Sosial

Di era yang serba cepat ini, generasi Z - mereka yang lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an - muncul sebagai kekuatan baru dalam dunia sosial dan politik. Berbeda dengan generasi sebelumnya, Gen Z tumbuh dalam dunia yang sudah terkoneksi internet, akrab dengan media sosial, dan lebih sadar terhadap isu-isu keadilan sosial. Dalam konteks kesenjangan sosial, Gen Z memainkan peran yang tidak bisa dianggap remeh.

Lalu, apa saja sebenarnya peran penting Gen Z dalam mengupas dan mengatasi masalah kesenjangan sosial?

1. Menyuarakan Ketidakadilan Lewat Media Digital

Gen Z sangat lihai menggunakan media sosial sebagai alat untuk menyuarakan ketidakadilan. Isu-isu seperti kemiskinan, diskriminasi pendidikan, ketidaksetaraan ekonomi, hingga akses kesehatan diangkat secara masif lewat kampanye online. Dengan kemampuan membuat isu menjadi viral, Gen Z mendorong banyak orang - termasuk para pembuat kebijakan - untuk lebih memperhatikan masalah kesenjangan.

2. Mengedukasi Masyarakat Lewat Bahasa yang Relatable

Gen Z juga berperan aktif dalam mengedukasi masyarakat soal isu sosial, dengan bahasa yang santai, lugas, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Mereka menerjemahkan istilah-istilah rumit menjadi konten yang lebih mudah dipahami.

3. Membangun Gerakan Sosial Berbasis Komunitas

Gen Z ahli membangun gerakan sosial, baik online maupun offline. Mereka membentuk komunitas kecil yang fokus pada isu spesifik, dengan pendekatan dari bawah dan kolaboratif.

4. Mendorong Inovasi untuk Mengatasi Kesenjangan

Banyak anak muda Gen Z menciptakan aplikasi pendidikan gratis, platform crowdfunding sosial, ataumarketplace untuk UMKM desa.

5. Membangun Narasi Inklusif dan Empatik

Dalam membahas kesenjangan sosial, Gen Z memperhatikan kelompok minoritas, disabilitas, komunitas adat, hingga isu gender, menciptakan ruang yang aman untuk semua suara.

Generasi Z tidak hanya menjadi saksi atas masalah kesenjangan sosial, mereka menjadi aktor aktif dalam mengubahnya. Dengan keberanian berbicara, kreativitas tinggi, literasi digital, dan jiwa kolaboratif, Gen Z membawa harapan baru untuk masa depan yang lebih adil dan setara. Karena bagi mereka, perubahan tidak harus dimulai 'nanti' - perubahan dimulai dari sekarang, dimulai dari diri sendiri, dan dimulai dari hal-hal kecil.

THE PSYCHOLOGY OF MONEY

 




The Psychology of Money

Memahami Hubungan Emosional Kita dengan Kekayaan

Oleh Sahabati:

Mamluatul Sifa

Uang adalah salah satu kekuatan paling berpengaruh dalam kehidupan manusia. Namun, yang sering diabaikan adalah fakta bahwa keputusan-keputusan keuangan jarang murni rasional; mereka justru sangat dipengaruhi oleh emosi, pengalaman hidup, dan keyakinan individu. Konsep psychology of money mengkaji bagaimana faktor-faktor psikologis ini membentuk cara seseorang memperoleh, membelanjakan, menginvestasikan, dan memaknai uang.




Setiap orang memiliki "cerita uang" yang unik, terbentuk dari pengalaman masa kecil, lingkungan keluarga, serta pengalaman pribadi dalam menghadapi kekurangan atau kelimpahan. Misalnya, seseorang yang tumbuh dalam kondisi kekurangan mungkin mengembangkan rasa cemas berlebihan terhadap keuangan, bahkan setelah mencapai stabilitas ekonomi. Sebaliknya, seseorang yang terbiasa dengan kemudahan finansial mungkin menganggap enteng risiko keuangan, karena tidak pernah merasakan konsekuensi nyata dari kesalahan pengelolaan uang.




Salah satu konsep penting dalam psikologi uang adalah bahwa kekayaan bersifat relatif, bukan absolut. Rasa puas terhadap kondisi keuangan kita seringkali bukan ditentukan oleh jumlah uang yang kita miliki, melainkan oleh bagaimana posisi kita dibandingkan dengan orang lain di sekitar kita. Fenomena ini disebut dengan relative income bias — di mana kebahagiaan finansial kita lebih terkait pada perbandingan sosial daripada pada kebutuhan nyata.




Selain itu, konsep time horizon atau jangka waktu berpikir juga memegang peran besar. Banyak keputusan buruk dalam keuangan muncul dari dorongan untuk mendapatkan hasil cepat, mengorbankan potensi manfaat jangka panjang. Orang yang sukses dalam membangun kekayaan seringkali adalah mereka yang mampu menunda kepuasan (delayed gratification) dan berpikir dalam kerangka waktu puluhan tahun, bukan hanya beberapa bulan.




Pada akhirnya, The Psychology of Money mengajarkan bahwa keberhasilan finansial bukan hanya soal kecerdasan matematis atau kemampuan teknis dalam berinvestasi, melainkan lebih kepada disiplin emosional, pemahaman diri, dan kemampuan mengelola harapan serta ketakutan. Uang adalah alat yang kuat, namun tanpa pemahaman akan dinamika psikologis di baliknya, uang bisa menjadi sumber stres yang terus menerus.




Belajar memahami psikologi uang berarti belajar untuk lebih mengenal diri sendiri — mengenali apa yang benar-benar kita hargai, bagaimana kita bereaksi terhadap ketidakpastian, dan bagaimana membangun hubungan yang lebih sehat dengan uang untuk mencapai kesejahteraan yang sejati.

#money

#psikologiuang

#thepsychologyofmoney


Senin, 05 Mei 2025

Dampak Potong Generasi di Sebuah Organisasi

 




Dampak Potong Generasi di Sebuah Organisasi

Karya: 

Hanif Muzaki

Kader Komisariat Ki Patih Sampun pemalang



Potong generasi merupakan fenomena yang kerap terjadi dalam tubuh organisasi, ketika kader atau anggota baru langsung diangkat ke posisi struktural tertentu tanpa melewati proses tahapan yang semestinya. Dalam banyak kasus, fenomena ini terjadi karena berbagai alasan: kekosongan kader menengah, dorongan pragmatis, hingga keinginan mempercepat regenerasi. Meskipun dapat memberikan efek jangka pendek yang positif, potong generasi memiliki dampak besar terhadap kualitas, kesinambungan, dan budaya organisasi itu sendiri.



Secara positif, potong generasi dapat mempercepat regenerasi. Organisasi yang stagnan karena dominasi kader lama atau pasifnya kader menengah bisa disegarkan dengan masuknya generasi baru. Kader muda cenderung memiliki semangat tinggi, adaptif terhadap teknologi, serta responsif terhadap isu-isu kontemporer. Dalam kondisi darurat, langkah ini bahkan bisa menyelamatkan jalannya organisasi dari kevakuman struktural.



Lebih dari itu, potong generasi dapat menjadi cara efektif untuk memunculkan kader-kader potensial yang mungkin tidak terpantau oleh sistem kaderisasi konvensional. Beberapa kader muda justru menunjukkan kepemimpinan, loyalitas, dan kapasitas intelektual yang melebihi ekspektasi. Dengan catatan, potensi ini harus dibarengi dengan pendampingan intensif agar mereka tidak kehilangan arah atau terjebak dalam euforia jabatan.



Namun, dampak negatif dari potong generasi tidak bisa diabaikan. Pertama, hal ini sering memicu kecemburuan dan friksi internal. Kader menengah yang merasa telah melalui proses panjang namun tersingkir dari struktur bisa merasa tidak dihargai. Ini menciptakan konflik horizontal yang melemahkan kohesi internal organisasi.



Kedua, potong generasi mengganggu proses kaderisasi berjenjang. Organisasi yang sehat mestinya memiliki tahapan kaderisasi yang jelas dan berjenjang: mulai dari rekrutmen, penguatan ideologis, hingga pembentukan karakter pemimpin. Potong generasi melompati proses ini, sehingga kader baru belum matang secara ideologi, wawasan, maupun karakter kepemimpinan.


Ketiga, jika dilakukan tanpa pertimbangan strategis, potong generasi bisa menyebabkan organisasi kehilangan arah. Struktur mungkin terlihat aktif secara administratif, namun tidak memiliki orientasi ideologis atau strategi gerakan yang kokoh. Akibatnya, organisasi bergerak tanpa arah yang jelas, atau hanya mengejar pencitraan semata.


Solusinya bukan semata menolak atau menerima potong generasi, melainkan menata ulang sistem kaderisasi agar fleksibel namun tetap menjaga kualitas. Pendampingan senior, pelatihan lanjutan, dan penilaian berbasis kompetensi harus menjadi bagian dari mekanisme regenerasi. Potong generasi boleh saja terjadi dalam situasi darurat, namun tidak boleh menjadi budaya organisasi.


Pada akhirnya, keberhasilan organisasi ditentukan oleh kualitas regenerasi yang matang, bukan oleh percepatan yang tergesa-gesa. Regenerasi adalah proses penumbuhan, bukan percepatan yang mengorbankan kedalaman.

#puterabangsabebasmerdeka
#salampergerakan
#regenerasi
#kaderisasi
#potonggenerasi



Sabtu, 26 April 2025

POTRET MINIMNYA KESADARAN KOLEKTIF DI ERA MASA KINI


Potret Minimnya Kesadaran Kolektif di Era Kini

By Sahabat: Hanif Muzaki

Di tengah derasnya arus informasi dan maraknya aktivitas individualistik, organisasi-organisasi saat ini menghadapi tantangan baru: semakin banyak kader yang direkrut, namun semakin sedikit pula yang benar-benar terlibat. Fenomena kader yang masif namun pasif bukan hanya persoalan kuantitas versus kualitas, melainkan juga soal kesadaran—yang per hari ini, terlihat semakin menurun.



Kader hadir di awal, saat proses rekrutmen atau pelatihan, namun kemudian menghilang dari ruang-ruang gerakan. Mereka ada di daftar, tapi tak tampak dalam aksi nyata. Keikutsertaan menjadi formalitas, bukan panggilan komitmen. Kesadaran untuk aktif, yang seharusnya tumbuh dari pemahaman terhadap visi organisasi, kini tergeser oleh rutinitas pribadi, distraksi digital, atau bahkan ketidakpedulian.



Minimnya kesadaran ini bisa disebabkan oleh pola kaderisasi yang terlalu normatif—berbasis teori tanpa kedekatan emosional. Kader tidak merasa memiliki organisasi karena sejak awal tidak dibangun rasa keterikatan yang kuat. Selain itu, budaya instan yang berkembang di masyarakat membuat proses panjang dan kerja kolektif dalam organisasi dianggap tidak menarik atau bahkan membebani.



Padahal, keaktifan bukan hanya tentang menjalankan program, tetapi juga tentang membentuk karakter, kepedulian sosial, dan kesiapan menghadapi kehidupan bermasyarakat. Jika kader terus dibiarkan pasif, organisasi akan kehilangan denyutnya. Ia akan berjalan dengan sistem, tapi tanpa semangat.



Per hari ini, organisasi harus lebih adaptif dalam menumbuhkan kesadaran kader. Pendekatan yang personal, pemanfaatan media digital yang relevan, serta pemberian ruang eksplorasi bagi kader untuk tumbuh sesuai minat dan potensinya adalah kunci untuk membangkitkan kembali semangat kolektif.



Kesadaran tidak bisa dipaksakan, tapi bisa dibangun. Maka, pekerjaan besar kita hari ini bukan sekadar mengajak orang bergabung, tapi bagaimana membuat mereka mau dan merasa perlu untuk terus bergerak bersama.


Jumat, 25 April 2025

MINIMNYA MINAT MEMBACA DIKALANGAN MAHASISWA





Minimnya Minat Membaca di Kalangan Mahasiswa

Minimnya Minat Membaca di Kalangan Mahasiswa: Refleksi dan Upaya Solutif
Karya Sahabati: Esa Nafisah

Membaca merupakan aktivitas fundamental dalam dunia pendidikan tinggi. Kemampuan literasi yang baik berperan penting dalam membentuk cara berpikir kritis, kemampuan analitis, serta kecakapan akademik seorang mahasiswa. Namun, data menunjukkan bahwa minat membaca mahasiswa Indonesia masih tergolong rendah. UNESCO pernah mencatat bahwa indeks minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001, yang artinya dari 1.000 orang, hanya satu yang memiliki minat membaca serius (UNESCO, 2016). 


Di tingkat mahasiswa, rendahnya minat membaca tampak dari minimnya partisipasi dalam diskusi ilmiah berbasis bacaan, rendahnya kualitas penulisan karya ilmiah, serta dominasi sumber-sumber tidak akademik dalam tugas perkuliahan. Survei Perpustakaan Nasional (2020) juga menyebutkan bahwa mahasiswa lebih sering membaca karena keperluan akademik (tugas atau ujian), bukan karena dorongan pribadi atau keinginan memperluas wawasan.


Faktor penyebabnya cukup kompleks. Pertama, kehadiran teknologi digital menciptakan budaya instan di mana mahasiswa lebih terbiasa dengan informasi singkat dari media sosial atau platform video. Hal ini menurunkan toleransi terhadap bacaan panjang dan mendalam. Kedua, sistem pembelajaran yang lebih menekankan hasil (output) ketimbang proses intelektual turut mendorong mahasiswa mencari jalan pintas, seperti membaca ringkasan atau mencari jawaban cepat. Ketiga, belum semua kampus memiliki fasilitas perpustakaan yang memadai, baik dari sisi koleksi maupun akses digital.


Minimnya minat baca ini berdampak luas. Mahasiswa kesulitan menyusun argumen berbasis literatur, kemampuan menulis akademik menurun, dan lebih rentan terhadap hoaks atau informasi tidak kredibel karena tidak terbiasa melakukan verifikasi melalui sumber yang valid. Padahal, dalam konteks pendidikan tinggi, literasi informasi menjadi salah satu indikator utama kualitas lulusan.


Untuk menjawab tantangan ini, dibutuhkan pendekatan komprehensif. Perguruan tinggi perlu mengintegrasikan literasi sebagai bagian dari kurikulum inti, bukan hanya tanggung jawab dosen Bahasa Indonesia atau mata kuliah wajib umum. Dosen juga diharapkan memberi penekanan lebih
pada telaah literatur dan penugasan yang mendorong eksplorasi bacaan. Selain itu, pengembangan perpustakaan digital, workshop literasi informasi, serta kampanye membaca melalui komunitas mahasiswa bisa menjadi langkah konkret.


Membangun budaya membaca di kalangan mahasiswa adalah investasi jangka panjang. Tanpa itu, sulit membayangkan hadirnya generasi intelektual yang mampu bersaing di tengah derasnya arus informasi global. Literasi adalah fondasi peradaban; dan mahasiswa, sebagai kelompok terpelajar, harus menjadi ujung tombaknya.

#membaca
#literasi
#mimimnyaminatbaca

Selasa, 22 April 2025

KEPEMIMPINAN MAHASISWA DALAM MEMBANGUN TOLERANSI DAN KEADILAN


 

Kepemimpinan Mahasiswa dalam Moderasi Beragama Dalam Membangun Toleransi dan Keadilan

Oleh: Hanif Muzaki

ANGGOTA PK PMII KI PATIH SAMPUN INSIP PEMALANG


Mahasiswa merupakan salah satu kelompok yang memiliki peran penting dalam membangun dan mengembangkan masyarakat. Dalam konteks moderasi beragama, mahasiswa dapat memainkan peran sebagai agen perubahan yang efektif. Kepemimpinan mahasiswa dalam moderasi beragama dapat membantu membangun toleransi dan keadilan dalam masyarakat.


Indonesia merupakan negara yang memiliki keberagaman agama, suku, dan budaya. Namun, keberagaman ini seringkali menjadi sumber konflik dan ketegangan. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah mengalami beberapa kasus konflik berbasis agama, seperti kasus penyerangan terhadap minoritas agama dan kasus diskriminasi terhadap kelompok tertentu. Oleh karena itu, moderasi beragama menjadi sangat penting dalam membangun toleransi dan keadilan dalam masyarakat.


Mahasiswa dapat memainkan peran penting dalam moderasi beragama. Pertama, mahasiswa dapat menjadi agen perubahan yang efektif dalam membangun toleransi dan keadilan. Mahasiswa dapat melakukan kampanye kesadaran dan edukasi tentang pentingnya toleransi dan keadilan. Kedua, mahasiswa dapat menjadi mediator dalam konflik berbasis agama. Mahasiswa dapat membantu memfasilitasi dialog dan komunikasi antara kelompok-kelompok yang berkonflik. Ketiga, mahasiswa dapat menjadi advokat untuk hak-hak minoritas agama. Mahasiswa dapat membantu memperjuangkan hak-hak minoritas agama dan memastikan bahwa mereka tidak didiskriminasi.


Kepemimpinan mahasiswa dalam moderasi beragama sangat penting dalam membangun toleransi dan keadilan. Pertama, kepemimpinan mahasiswa dapat membantu membangun kesadaran dan komitmen terhadap moderasi beragama. Kepemimpinan mahasiswa dapat membantu memfasilitasi diskusi dan debat tentang pentingnya moderasi beragama. Kedua, kepemimpinan mahasiswa dapat membantu membangun jaringan dan kerja sama antara kelompok-kelompok yang berbeda. Kepemimpinan mahasiswa dapat membantu memfasilitasi kerja sama antara kelompok-kelompok yang berbeda dalam membangun toleransi dan keadilan.

Kepemimpinan mahasiswa dalam moderasi beragama sangat penting dalam membangun toleransi dan keadilan dalam masyarakat. Mahasiswa dapat memainkan peran sebagai agen perubahan yang efektif, mediator, dan advokat untuk hak-hak minoritas agama. Kepemimpinan mahasiswa dapat membantu membangun kesadaran dan komitmen terhadap moderasi beragama, serta membangun jaringan dan kerja sama antara kelompok-kelompok yang berbeda. Oleh karena itu, kepemimpinan mahasiswa dalam moderasi beragama harus terus dikembangkan dan diperkuat dalam membangun masyarakat yang lebih toleran dan adil.

Senin, 21 April 2025

SELAMAT HARI KARTINI

 


[SELAMAT HARI KARTINI]


Kami segenap pengurus dan kader PMII ki patih sampun INSIP mengucapkan selamat hari kartini "Habis gelap terbitlah terang"



Fikir, Dzikir, Amal Sholeh



_____________________________

BIDANG MEDIA & INFORMASI

MENGENANG SEMANGAT R.A KARTINI

 



Mengenang Semangat R.A. Kartini: Perempuan, Pendidikan, dan Perjuangan


Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini. Bukan sekadar mengenang sosok perempuan bangsawan dari Jepara, tetapi juga meneladani semangat dan pemikiran Raden Ajeng Kartini yang melampaui zamannya. Kartini adalah simbol perjuangan emansipasi perempuan—gagasan yang pada masa itu terdengar nyaris mustahil.


Kartini lahir pada 21 April 1879 dari keluarga priyayi Jawa. Di tengah tradisi yang membatasi ruang gerak perempuan, Kartini tumbuh menjadi sosok yang haus ilmu pengetahuan. Ia menulis surat-surat yang berisi keresahan, harapan, dan impiannya kepada teman-temannya di Belanda. Surat-surat ini kemudian dibukukan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang, menjadi bukti bahwa pikiran perempuan bisa sangat tajam dan visioner.


Salah satu pemikiran Kartini yang paling kuat adalah tentang pentingnya pendidikan bagi perempuan. Baginya, perempuan tidak boleh hanya dipersiapkan untuk menjadi istri dan ibu rumah tangga, tetapi juga manusia utuh yang punya kesempatan untuk belajar, berpikir, dan berkarya. Ia ingin melihat perempuan-perempuan Indonesia berdiri sejajar, bukan dalam pertentangan dengan laki-laki, tapi sebagai mitra dalam membangun bangsa.


Hari ini, lebih dari seabad setelah kepergiannya, perjuangan Kartini masih relevan. Perempuan Indonesia sudah jauh melangkah, tapi tantangan belum sepenuhnya usai. Masih banyak yang harus diperjuangkan: akses pendidikan yang setara, perlindungan terhadap perempuan dari kekerasan, dan kesempatan yang adil di dunia kerja maupun politik.


Kartini mengajarkan kita bahwa perubahan besar bisa dimulai dari pikiran dan kata-kata. Sebuah surat bisa menjadi senjata. Sebuah gagasan bisa menjadi cahaya.



Oleh Karena Nya Kami Keluarga Besar Pk Pmii Ki Patih Sampun Mengucapkan Selamat Hari Kartini. Mari terus nyalakan terang, bahkan setelah gelap.

#ra.kartini

#harikartini

#ibukitakartini

Minggu, 20 April 2025

PUISI PERGERAKAN

 




Pergerakan


Bumi tak pernah diam

ia berputar dalam kesetiaan tanpa tepuk tangan.

Langkah kaki yang sunyi,

mengukir jejak di tanah yang keras,

menantang nasib yang membeku di antara bayang.


Pergerakan bukan hanya maju,

kadang ia melingkar,

menurun,

menyusup dalam diam seperti akar

yang tak terlihat namun menembus batu.


Ada jiwa yang menggeliat dalam dada,

memanggil perubahan

dengan napas sesak dan tekad yang mekar.

Darah mengalir bukan untuk bertahan,

tapi untuk menuntut makna.


Pergerakan,

adalah puisi yang ditulis tubuh

dalam bahasa yang hanya dimengerti oleh keberanian.

Ia tidak selalu menang,

tapi ia tak pernah tunduk.



By: Cah patih sampun

Sabtu, 19 April 2025

KETIKA KUAS BERBICARA




Ketika Kuas Bicara: Menyelami Sunyi dalam Seni Lukis



Karya sketsa sahabat Hanif– Hermione Granger


Pernahkah kamu berdiri di depan sebuah lukisan dan merasa seolah waktu berhenti?

Tanpa kata, tanpa suara, tapi lukisan itu berbicara. Ada perasaan yang muncul begitu saja—mungkin tenang, mungkin gelisah. Itulah kekuatan seni lukis. Di tengah dunia yang bising dan serba cepat, seni ini hadir seperti jeda: hening, tapi penuh makna.


Seni lukis bukan sekadar goresan warna di atas kanvas. Ia adalah bahasa sunyi yang menghubungkan manusia dengan dirinya sendiri dan dengan semesta. Di balik setiap lukisan, tersimpan pikiran yang dalam, perasaan yang tak terucapkan, dan pengamatan yang tajam terhadap kehidupan.


Vincent van Gogh pernah berkata, "I dream my painting, and then I paint my dream."

Ungkapan ini menggambarkan bagaimana seni lukis adalah bentuk manifestasi dari dunia batin yang kaya. Ia bukan tiruan realitas, tetapi interpretasi jujur dari apa yang ada dalam benak dan hati penciptanya.


Seni lukis juga mengajarkan kita untuk melihat—bukan hanya dengan mata, tapi dengan kesadaran. Ia memaksa kita untuk hadir sepenuhnya, untuk mendengarkan cerita yang tak diucapkan. Dan dalam proses itu, kita menemukan refleksi tentang diri kita sendiri.


Lukisan bukan hanya milik para seniman. Ia milik siapa saja yang ingin merasakan, merenung, dan memahami hidup dari sudut yang lebih dalam. Jadi lain kali kamu melihat sebuah lukisan, jangan terburu-buru berpaling. Biarkan ia bicara. Kadang, dalam sunyi, kita justru menemukan yang paling bermakna.

#seni #lukisan #filosofi #artthoughts


-pemalang, 20 april 2025

PERJALANAN DAN REFLEKSI PERKEMBANGAN PK PMII KI PATIH SAMPUN PEMALANG

 


Perjalanan dan Refleksi Perkembangan PK PMII Ki Patih Sampun Pemalang dari Tahun ke Tahun


Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) merupakan organisasi kemahasiswaan yang memiliki peran strategis dalam membentuk kader intelektual yang berjiwa nasionalis dan religius. Dalam konteks lokal, kehadiran PK PMII Ki Patih Sampun Pemalang menjadi sebuah titik terang dalam proses kaderisasi dan pergerakan intelektual di wilayah Kabupaten Pemalang, khususnya di lingkup pesantren dan institusi pendidikan.


Sejak awal berdirinya, PK PMII Ki Patih Sampun Pemalang  tidak hanya menjadi wadah aktualisasi diri bagi mahasiswa, namun juga menjadi ruang ideologis dan gerakan perubahan yang berlandaskan pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama’ah. Tahun-tahun awal berdiri menjadi fase penting dalam proses peletakan pondasi organisasi. Kepengurusan awal berjibaku dengan segala keterbatasan, mulai dari minimnya kader, keterbatasan fasilitas, hingga tantangan dalam membangun sinergi dengan struktur di atasnya. Namun, semangat juang yang tinggi dan militansi kader menjadi kunci dalam menjaga eksistensi organisasi ini.


Memasuki tahun-tahun berikutnya, PK PMII Ki Patih Sampun Pemalang menunjukkan progres yang signifikan. Kegiatan kaderisasi mulai berjalan dengan baik melalui pelaksanaan MAPABA, PKD, diskusi rutin, dan pengajian tematik. Tak hanya itu, kader juga mulai diikutsertakan dalam kegiatan tingkat cabang dan wilayah, yang secara tidak langsung mengasah kemampuan kepemimpinan serta menumbuhkan rasa percaya diri.


Tahun demi tahun menjadi catatan penting tentang bagaimana organisasi ini berkembang. Ada masa di mana kader mulai mengeksplorasi ruang-ruang baru dalam ranah sosial, budaya, bahkan politik. Gerakan PK PMII Ki Patih Sampun Pemalang tidak hanya berkutat ruang akademik, tapi juga mulai membumikan nilai-nilai Islam moderat ke tengah masyarakat melalui kegiatan sosial dan dakwah kultural. Hal ini menjadi bagian penting dari karakter PMII sebagai organisasi kader dan perjuangan.


Perjalanan panjang ini tentu tidak lepas dari dinamika dan refleksi internal. Evaluasi terus dilakukan dari generasi ke generasi demi memastikan bahwa roda organisasi tetap berjalan pada rel perjuangannya. Isu-isu strategis seperti digitalisasi gerakan, penguatan literasi kader, hingga pentingnya regenerasi terus digaungkan dalam setiap forum diskusi internal maupun eksternal.


Tahun 2025 menjadi titik refleksi besar, seiring dengan momentum Harlah PMII ke-65. PK PMII Ki Patih Sampun Pemalang menjadi bagian aktif dalam perayaan ini, baik sebagai peserta maupun inisiator kegiatan. Refleksi ini menjadi pengingat bahwa perjuangan belum usai. Bahwa menjadi kader PMII hari ini, artinya memikul beban sejarah, nilai perjuangan, dan harapan akan perubahan.


Arah ke depan menuntut PK PMII Ki Patih Sampun Pemalang untuk terus beradaptasi dengan zaman, namun tetap berakar pada nilai-nilai dasar organisasi. Inovasi gerakan, perluasan jaringan, dan penguatan kapasitas kader menjadi pekerjaan rumah yang tak boleh diabaikan. Semangat fikir, dzikir, dan amal sholeh harus menjadi napas dalam setiap gerakan kader di masa kini dan mendatang.


#salampergerakan

#pkpmiikipatihsampunpemalang

#catatanpkpmiikipatihsampunpemalang

REFLEKSI HARLAH BARENG PMII PEMALANG

 



PMII Pemalang Gelar Refleksi Harlah ke-65 di Ponpes Az Zahro Sungapan


Pemalang, 17 April 2025 – Dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang ke-65, Pengurus Cabang (PC) PMII Pemalang menggelar acara refleksi penuh khidmat di Pondok Pesantren Az Zahro, Sungapan, Pemalang.


Acara ini dihadiri oleh berbagai elemen keluarga besar PMII, mulai dari demisioner PC PMII Pemalang, PC Ikatan Alumni (IKA) PMII Pemalang, hingga kader-kader aktif dari Pengurus Komisariat (PK) PMII Ki Patih Sampun Pemalang dan PK PMII Assholeh Pemalang. Kehadiran lintas generasi ini menambah hangatnya suasana refleksi dan silaturahmi antar-kader dan alumni.


Dengan mengusung semangat "Meneguhkan Spirit Pergerakan, Menyongsong Masa Depan yang Berkemajuan", kegiatan ini menjadi wadah bersama untuk mengenang sejarah panjang perjuangan PMII sekaligus memperkuat kembali komitmen keorganisasian di tengah tantangan zaman yang terus berkembang.


Acara diawali dengan pembacaan tahlil dan doa bersama untuk para muassis dan pejuang PMII yang telah berpulang. Kemudian dilanjutkan dengan sesi refleksi sejarah, diskusi terbuka, serta sharing inspiratif dari para alumni dan senior PMII yang hadir.


Salah satu demisioner PC PMII Pemalang, Sahabat Muhamad Adi Saputra dalam sambutannya menyampaikan, “Refleksi harlah ini bukan hanya seremoni, tapi momen untuk menegaskan kembali identitas dan arah gerak PMII ke depan. Kader PMII hari ini harus adaptif, progresif, namun tetap menjunjung tinggi nilai-nilai dasar perjuangan.” Ujarnya.


Selain menjadi ajang nostalgia, acara ini juga menekankan pentingnya regenerasi yang kuat dan militansi kader. PC IKA PMII Pemalang turut menegaskan dukungannya terhadap kaderisasi yang berkelanjutan serta penguatan kontribusi kader PMII di tengah masyarakat.


Dengan penuh semangat, kader PMII dari berbagai komisariat menegaskan komitmen mereka untuk terus belajar, berkontribusi, dan hadir sebagai agen perubahan di tengah dinamika sosial dan keumatan.


Harlah ke-65 ini menjadi penanda bahwa PMII, dengan segala dinamika dan transformasinya, tetap relevan dan dibutuhkan. Dari Pemalang, semangat pergerakan kembali digelorakan—menatap masa depan dengan keyakinan dan harapan.


#pmiipemalang

#harlahpmiike65

#refleksiharlahpmii

Sabtu, 01 April 2023

Wow!!!! Momentum Harlah PK PMII Ki Patih Sampun Pemalang yang ke 9 th, sepakat harapan komisariat menetaskan kader-kader yang loyalitas, integritas dan kuat secara intelektualitas dimasa mendatang

Dokumentasi Harlah

Pemalang, Panggon Tukaran- Pengurus  Komisariat Ki Patih Sampun STIT Pemalang sukses gelar peringatan Hari lahir Komisariat yang ke-9 tahun, dengan tema "Menyatukan Persepsi, Membangun Sinergi" di SMP Al-Mansyuriyah, Mengori pada Sabtu (18/03/2023) 

Dalam kegiatan harlah komisariat Patih Sampun yang ke-9 di hadiri oleh segenap para senior Patih Sampun Pemalang, anggota dan kader Patih Sampun. Kegiatan tersebut di buka langsung oleh Sahabat Rais (selaku Ketua mabinkom Patih Sampun Kab. Pemalang). 

Pada dasarnya PMII Patih Sampun STIT Pemalang merupakan organisasi yang sudah beranjak masa remaja yakni berumur 9 tahun. Peran besar yang dihadapi oleh PMII Patih Sampun yaitu tentang pemberdayaan SDM komisariat diruang kampus dan lingkungan. Tentunya dengan peranan dan tugas yang tertuang dalam tri dharma perguruan tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat, ini cukup strategis dan penuh kesungguhan. Hal ini sangat diharapkan kader PMII mampu membaca dan respon terhadap dinamika kampus dan lingkungan masyarakat. Dengan itu, peran kader-kader sangat dibutuhkan menjadi aktor dalam perubahan. Melalui bekal ilmu pengetahuan dan keterampilan dalam pengelolaan organisasi, serta nalar kritis mahasiswa, sehingga dapat beradaptasi pada lingkungan manapun, dalam kondisi apapun. Oleh karena itu, PMII dijadikan wadah dalam menempuh pendidikan alternatif harus menyediakan formulasi dan strategi yang dapat menjawab dan memfasilitasi pada dinamika kampus yang sangat rumit dan kompleks. Yaitu dengan memaksimalkan pendidikan formal, nonformal dan informal dalam menjalankan roda organisasi. 

Ini merupakan suatu bentuk upaya dalam mengemban tugas ketika berkhidmat di komisariat, terutama dalam regenerasi secara utuh dan konsisten. Karena dari keistiqomahan tersebutlah dapat membentuk mental dan intelektual kader dapat terasah, sehingga output dari usaha tersebut, dalam diri kader terbentuk loyalitas, integritas dan intelektualitas dalam bergerak. 

Dengan itu adanya momentum Harlah komisariat merupakan suatu bentuk awal menuju perubahan pada setiap diri kader terlebih pada komisariat. Tentunya dengan menstabilkan peran dan tanggung jawab masing-masing dalam melaksanakan proses. 

"Dari awal PMII Ki Patih Sampun berdiri, bukan semata-mata kemudian ujug-ujug dari pemberian, akan tetapi dari hasil jeli perjuangan untuk menggagas mendirikan terutama di STIT Pemalang. Jalannya organisasi yaitu adanya patner-patner yang kuat." Ucap Sahabat Rais saat momen Harlah komisariat yang ke 7 (pulosari) 2021.

Dari pernyataan tersebut, dapat diartikan bahwa jeli payah perjuangan para pendiri (senior) harus senantiasa diteruskan dengan seksama, dan dari kader lah menjadi satu hal yang sangat berarti bagi keberlangsungan dan keberlanjutan komisariat, serta menjadi ujung tombak kemajuan organisasi. Karena seiring berjalannya waktu, akan terus berubah-ubah, baik pola maupun skema, namun tujuan hanya satu terus berdikari menjaga marwah organisasi sesuai nilai-nilai, norma-norma, dan darah juang PMII Komisariat Ki Patih Sampun Pemalang. Hingga sampai harlah yang ke-9 inilah, tingkat komitmen dan keloyalan kader agar terus pertahankan dan diaplikasikan. 

"Semangat bagi kader-kader jangan khawatir, perjuangan kita (PMII) dilihat segi manapun pastinya menguntungkan" Lanjut Sahabat Rais. 

Dilihat dari sampai mana dan semenjak kapanlah keberhasilan seorang anggota atau kader dapat terukur dan diperoleh, pasalnya buah yang berkualitas, lezat rasanya dan memiliki nilai tawar yang tinggi, pastinya melewati proses yang lama dan bertahap, dari persiapan, penanaman, pemupukan, perawatan sampai pemanenan dan pemasaran. Hal tersebut sama halnya proses seorang anggota atau kader yang wajib melewati fase-fase kaderisasi yang konsisten dan intens, sehingga melahirkan kader-kader yang loyal, integritas dan berkualitas. 

Penulis: Sahabat Pergerakan


Kamis, 09 Februari 2023

Nekat!!!Gelar Pelantikan dan Rapat Kerja di Gedung DPRD Kabupaten Pemalang, Pengurus Baru PK PMII Ki Patih Sampun, siap mentransformasikan teladan tokoh Pangeran Patih Sampun lingkar Kampus

 

Foto Pelantikan

Pemalang-Telah terselenggaranya kegiatan Pelantikan, Upgrading dan Rapat Kerja (Raker) ke-VIII PK PMII Ki Patih Sampun STIT Pemalang dengan tema "Merawat Pemikiran, membuat Pergerakan dan Membangun Perubahan" di Gedung DPRD Kabupaten Pemalang. Dengan dihadiri seluruh anggota dan kader PMII Ki Patih Sampun, senior Ki Patih Sampun, Senior PMII Pemalang, Cabang Persiapan PMII Pemalang, PC IKA PMII Kab Pemalang dan wakil Ketua DPRD Kabupaten Pemalang. (Sabtu/4/02/2023) 

-Kilas Balik Refleksi Tokoh Pangeran Ki Patih Sampun

Dalam kepemimpinannya di Kadipaten Pemalang, Sang Adipati Anom (baru) mengadakan pertemuan dengan para Punggawa Kadipaten untuk membahas masalah pembangunan di Pemalang. Untuk mempermudah hubungan dengan daerah-daerah di Pemalang kala itu, Adipati Pangeran Benowo memerintahkan kepada Patih Djiwonegoro untuk membangun dua jembatan di sungai banger dan di sungai Srengseng di Kebondalem. Pada saat diberi mandat tugas tersebut, dengan spontan Patih Djiwonegoro menjawab “sampun dados (sudah jadi), kanjeng Adipati”. Ucapnya. 

Mendengar jawaban Patih Djiwonegoro, sang Adipati Pangeran Benowo tercengang dibuatnya. Untuk membuktikan kebenaran ucapan Djiwonegoro, pada pagi harinya Pangeran Benowo meninjau lokasi dua jembatan tersebut, dan ternyata apa yang di ucapkan Djiwonegoro benar adanya, di dua sungai tersebut telah terbentang jembatan yang di kehendaki Adipati. Maka semakin yakinlah Pangeran Benowo kepada bhakti dan kesetiaan patih Djiwonegoro, putra asli Pemalang yang masyhur kesaktiannya.

Pada hari berikutnya, sang Adipati Benowo memerintahkan lagi kepada patih Djiwonegoro untuk membangun lagi dua jembatan di sungai Rambut di Bojongkelor dan sungai Plawangan. Namun lagi-lagi dijawab “sampun dados, kanjeng Adipati” oleh Djiwonegoro. Namun kali ini Adipati Benowo tak perlu lagi mengecek kebenaran jawaban yang di berikan oleh patihnya, dikarenakan sang Adipati sudah mempercayainya.

Bahkan bulan-bulan berikutnya adipati Pangeran Benowo memerintahkan lagi untuk membangun beberapa jembatan berturut-turut, jembatan-jembatan tersebut antara lain sebagai berikut:

-Jembatan Gianti, (terdapat didepan polres lama, Sirandu). 

-Jembatan di kali Waluh, Kedungbanjar.

-Jembatan di sungai Comal, kali Comal.

-Jembatan sungai Plawangan, di Lawangrejo.

- Jembatan sungai Sudetan di desa Krasak.

-Jembatan Pesapen, didepan kantor kecamatan Pemalang.

-Jembatan Slarang di sungai Waluh, di perbatasan desa Lenggong, Slarang.

- Jembatan sungai Raja (Siraja) di wilayah Bantar bolang, tepatnya di dukuh Simbang, Pegiringan.

- Jembatan di perkebunan kelapa Gentongreot, Karang moncol.

- Jembatan di desa Mejagong di kali Comal.

- Jembatan di desa Datar, di kali Comal.

- Jembatan Sudetan di daerah Moga,didepan Pesanggragan dan pemandian.

- Jembatan di perbatasan desa Cikasur dan desa Randu dongkal.

- Jembatan di desa Bulakan,dan -

- Jembatan di desa Belik.

Pada pertemuan berikutnya, Adipati pangeran Benowo melibatkan Tumenggung dan seluruh Demang serta para Penatus dan Bekel se kadipaten Pemalang, dalam acara tersebut, Adipati pangeran Benowo mengucapkan terima kasih kepada Patih Djiwonegoro dan para punggawanya atas jasa-jasanya dalam membangun beberapa jembatan di wilayah kadipaten Pemalang, maka, atas jasanya tersebut patih Djiwonegoro diberi gelar “sampun”, dan sejak saat itu Patih Djiwonegoro lebih dikenal sebagai Patih Sampun.

Ini merupakan suatu anugerah dan karakteristik bagi komisariat yang diberinama Komisariat Ki Patih Sampun. Nama tersebut menyimpan segala harapan yang amat besar dan penuh arti yang amat luas. Sejarah dari penamaan Ki Patih Sampun, ini mulanya pengurus Komisariat persiapan (awal deklarasi) kebingungan dalam hal penamaan. Pada akhirnya sekelompok mahasiswa sowan (bersilaturahmi) ke kediaman KH. Imron Khudlori, S. Ag. (sekarang sebagai Ketua PC IKA PMII Kab. Pemalang). Setelah mahasiswa tersebut menceritakan dan menanyakan perihal penamaan, spontan abah Imron mengucap "Patih Sampun", secara otomatis penamaan komisariat saat itu, diberi nama Komisariat Patih Sampun sampai sekarang. 

Dari awal Deklarasi Komisariat pada tanggal 19 Maret 2014, hingga kini sudah berumur 8 tahun jalan usia Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Komisariat Ki Patih Sampun STIT Pemalang tetap eksis mewarnai dinamika-dinamika kampus STIT Pemalang dengan senantiasa Satu barisan dan satu cita, pembela bangsa penegak agama, dan satu angkatan dan satu jiwa, pembela bangsa bebas merdeka. Dengan membawa rasa solidaritas dan loyalitas, arus yang bergulir-gulir dapat terlewati dengan cinta yang tumbuh subur. Seorang kader yang sadar akan pentingnya terima dan kasih,  Timbal dan balik, susah dan senang, cinta dan kasih, akan senantiasa memberikan impact perubahan disetiap masa khidmat. 

Kesadaran tersebut dapat diwujudkan, lantaran komitmen tanpa mencidrakan, loyal tanpa meninggalkan, solidaritas tanpa menyakitkan. Kini yang harus di pertahankan sepanjang masa, dan pergerakan tidak ada pudarnya. Walau rekam sejarah mengembalikan gerakan ke masa lampau, akan tetapi seklupit harapan dan cita-cita harus tetap terdepan, dengan progres-progres yang kuat dan matang merupakan jalan satu-satunya untuk menjangkau masa yang akan datang. 

Terselenggaranya pelantikan dan Rapat Kerja merupakan cerminan dari wujud perubahan komisariat. Pelantikan ke-8 ini, menganalogikan usia menuju kedewasaan, maka amat penting dalam sejarah Organisasi. Karena momentum tersebut sebagai barometer perubahan dimasa mendatang, baik dalam penyusunan program maupun strategi-strategi progresifitas komisariat dimasa selanjutnya. Tentunya hal tersebut terpatri pada tema yang dibawakan yaitu Merawat Pemikiran, membuat Pergerakan dan Membangun Perubahan. Makna dalam tema yang  dicanangkan dalam pelantikan dan Raker yaitu seorang kader dalam membangun sebuah perubahan dalam dirinya dan organisasi tentunya harus senantiasa komitmen dan konsisten dalam merawat wacana serta pemikiran, akan menghasilkan sebuah langkah transformatif berupa gerakan yang nyata, sehingga benih-benih perubahan dapat terbentuk dan dirasakan oleh setiap kader dan pengurus, yang orientasinya jangka panjang. Dengan orientasi di jangka panjang, tentunya pengurus  bukan hanya bersantai ria melainkan terus mengasah ketajaman analisa, kepemimpinan dan skill dalam melakukan segala hal persoalan. Dan hal tersebut ditanamkan dan dipupuk mulai dari sekarang. 

Foto peserta


Acara yang diselenggarakan 2 hari satu malam ini, dinilai sangat meriah dan sukses. Pasalnya kegiatan yang dimulai Sabtu 4 Februari 2023 di Balai Rakyat gedung DPRD Kabupaten Pemalang dimulai dengan penampilan-penampilan yang memukau dari segenap kader-kader PK Ki Patih Sampun STIT Pemalang. 





Diawali dengan penampilan nasyid oleh Sahabati Fernis Pangesti, paduan Suara oleh Anggota PMII Ki Patih Sampun, seni tari oleh sahabati Friska dan Majro'atul Barokah, kemudian penampilan puisi Arabian Poem oleh Sahabati Amalina, dan puisi Indonesian Oleh Sahabat Suley (Penyair 3 Dimensi, founder Forum Konsorsium Patih Sampun). Dari penampilan-penampilan tersebut memberikan kesan meriah dan menarik bagi suksesnya acara pelantikan. 

"Niat yang baik, semoga merupakan awal yang baik pula bagi Komisariat kedepan" Ucap Sahabat Ikhwan Rizki M selaku Ketua Komisariat Ki Patih Sampun Pemalang. 

Artinya bahwa, harapan Ketua Komisariat terhadap progres PMII terdepan agar senantiasa membawa secercah perubahan yang lebih baik dari sebelumnya. Prakata sambungan dari Ketua Komisariat yaitu Sahabat Anang Ma'ruf FR selaku demisioner Ketua Komisariat mewakili Majelis Pembina Komisariat (Mabinkom), 

"Kader PMII Ki Patih Sampun, harus berani menciptakan sebab yakni sebagai pelaku, serta kita harus berkaca pada Tri logi PMII, karena kita merupakan basis Ideologi. Dasar yang harus kita pegang yaitu dengan meningkatkan dan komitmen dalam bertaqwa kepada Allah Swt, Intelektualitas dan Profesionalitas" Ucapnya. 

Dengan kuat secara mental dan berbekal intelektual yang kuat, kader diharapkan dapat menjadi kader yang ahli secara mekanistik (aturan, langkah, formal) juga organistik (nilai-nilai, pendirian, komitmen) secara totalitas dan keseluruhan. 

Setelah prosesi pelantikan yang dipimpin oleh ketua Cabang Pemalang yakni Sahabati Siti Haniyatun Nisa, prakata pun di berikan kepada kepengurusan yang baru dilantik., 

" Selamat kepada sahabat-sahabati pengurus yang telah dilantik, semoga senantiasa amanah dan bertanggung jawab dalam mengembangkan PMII secara luas dan harapan, dan harapan ini harus didasari atas niat pribadi, dan ingat sahabat-sahabati, jalannya Komisariat di tangan sahabat-sahabati, semoga Komisariat akan lebih baik lagi. " Ucapnya. 

Selanjutnya yaitu sambutan dari Ibu Ajeng Triyani, A. Md. Selaku wakil ketua DPRD Kabupaten Pemalang, dengan memberikan motivasi dan kesan pesan yang amat luarbiasa. 

"Dulu saat saya berproses di PMII, itu masih bisa terbilang sangat sederhana, akan tetapi dengan kemauan, kemampuan, komitmen dan konsisten yang kuat, alhamdulillah saya bisa melewatinya. " Ucapnya. 

"Yakinlah sahabat-sahabati bahwa proses yang kita lakukan merupakan sebuah keberkahan, karena PMII merupakan wadah yang tepat. Semangat berproses, dalam mengembangkan sebuah amanah sahabat-sahabati, semoga Allah meridhoi langkah-langkah kalian. " Lanjutnya. 

Artinya bahwa keberhasilan berproses kita, bukan di ukur dengan ambisi yang keras, akan tetapi dengan niat yang tulus dan bergerak yang ikhlas serta bertahap. Sehingga kita dalam berproses tidak terasa sulit, melainkan dalam berproses kita terasa enjoy. Acara berikutnya yaitu Upgrading yang diisi oleh Sahabat Adi Saputra Sebagai mentor Upgrading dan Sahabat Santo Pranowo dan Fajriyan sebagai mentor Intelektual. 




Dalam forum upgrading memberikan kesan yang amat vital yaitu terkait peran dan fungsi pengurus dalam mengemban organisasi yang terarah, dan tersistem. Kemudian hal tersebut berisi tentang penegasan bahwa pengurus sejatinya itu mengurusi bukan sebaliknya, tutur Sahabat Adi. Maknanya bahwa setiap pengurus harus mempunyai visi yang kuat dalam mengemban amanah secara inisiatif dan profesional. Menyambung upgrading terkait kualitas kader, di sampaikan oleh Sahabat Santo, bahwa proses yang dilakukan kader dan pengurus tentunya memiliki impact yang nyata dan relevan, terutamanya dalam peningkatan dari segi intelektual setiap kader. Karena intelektual tanpa proses secara konsisten, akan sia-sia dan tidak secara tuntas. Pasalnya kualitas seorang kader harus diasah dan diasuh melalui pengarahan dan pendampingan secara intens dan rutin oleh pengurus. 

Acara selanjutnya yaitu ceramah pergerakan yang diisi langsung oleh Sahabat Gus Imron Khudlori, S. Ag. 


Dalam forum ceramah pergerakan, membahas terkait refleksi sejarah PMII Pemalang yang berawal dari dua Komisariat yaitu Komisariat Assholeh dan Ki Patih Sampun. Dari keduanya tentunya mengalami fase-fase yang menyulitkan (dulu) dan menyenangkan (sekarang). Fase menyulitkan tentunya dulu dalam berproses, mau tidak mau harus terjun langsung dan harus terus kordinasi intens dengan cabang Pekalongan karena, cabang Pekalongan adalah satu-satunya cabang yang membesarkan kedua Komisariat yang ada di Pemalang. Kemudian fase Menyenangkan yaitu sekarang, kita sudah mempunyai cabang persiapan, jadi kordinasi-kordinasi dapat berjalan dengan mudah dan secara langsung, karena akses nya cepat dan mudah. 

"Teruslah berproses, karena kita menjadi ujung tombak Perubahan" Ucapnya. 

Adapun point-to-point dalam ceramah pergerakan yaitu: 

1. Tingkatkan dan perbanyak teori (literasi) dengan membaca buku sampai kita cerdas. 

2. Situasi yang kita hadapi adalah sumber pelajaran kita, untuk menghadapi kondisi dimasa depan

3. Berproses sampai tuntas, jangan setengah-setengah

4.Kader PMII harus berani membuka ruang untuk masyarakat demi terealisasi nya intelektual

5. Kader PMII harus siap mengolah dan mengelola, dalam menciptakan rasa asah dan asuh satu sama lain

6. Kuasailah ruang-ruang strategis melalui kuatnya jaringan dan relasi

7. Jagalah solidaritas antar kader, karena itu yang akan membawa perubahan dan ikatan dimasa depan. 

Daru beberapa point-point yang amat penting, tentunya diharapkan dapat diaplikasikan oleh pengurus dan kader PMII. Karena berjalannya sistem kepengurusan akan mempengaruhi bobot dari perubahan yang telah kita bangun, dan hal tersebut bisa melalui pengikatan solidaritas pengurus. Berdasar pada solidaritas, akan melahirkan kekuatan kerjasama yang satu dan rasa kepercayaan yang utuh. 

Kemudian harapan para senior dan alumni, tentunya terkait perihal kualitas dan kapasitas. Keduanya tidak akan terpisah, karena hal tersebut merupakan inti dari proses kaderisasi yaitu meningkatkan kapasitas diri dan kualitas. Akan tetapi, untuk meraih keduanya tidak secara instan/mudah melainkan harus melewati proses yang lama dan serius. Maka itu proses kaderisasi, harus didasari kemauan yang kuat dari personality setiap kader dalam menjalankan roda organisasi step by step.  Walaupun daya sugesti itu beriringan, akan tetapi hal tersebut membutuhkan konsentrasi dan konsistensi dalam mencapainya. Seperti halnya Pangeran Djiwonegoro (Mbah Patih Sampun) yang memiliki daya karya atau pembangunan yang diluar nalar, contoh membuat jembatan tanpa menyentuh, akan tetapi sekali bicara "sampun dados" (Sudah Jadi),  beneran sudah jadi sebuah jembatan. Artinya bahwa setiap kader mempunyai daya karya atau produksi masing-masing, sesuai dengan kemampuannya dalam meyakinkan. Atau istilah di warga PMII, mumpuni secara ideologi. Kader inti Ideologi memiliki ciri khas masing-masing dalam memaknai dan melakukan perbuatan, atas dasar cinta, percaya, dan yakin bahwa PMII merupakan satu-satunya wadah yang tepat, untuk kita berkembang. Maka dari itu tokoh Pangeran Patih Sampun menjadi teladan kader-kader PK PMII Ki Patih Sampun STIT Pemalang dalam hal produktifitas, kreatifitas, ideologi, kesungguhan, kepercayaan, ketekunan, kebijaksanaan, kecerdasan dan konsisten dalam pembangunan kadipaten menuju kabupaten Pemalang ini. Semoga sesepuh-sesepuh kabupaten Pemalang di berikan tempat di sisi Allah SWT, selapang-lapangnya dan jasa-jasanya dapat menjadi amal jariyah yang kekal ila yaumil qiyamah.... 

Syaiulillahi Lana wala humul Fatihah..... 

Penulis: Sahabat Pergerakan

#Pkpmiikipatihsampun

#konsorsiumpatihsampun




Senin, 16 Januari 2023

Sukses!!! Rapat Tahunan Komisariat (RTK) VII PK PMII Ki Patih Sampun Pemalang, siapkan Regenerasi yang Totalitas dan Solidaritas bakal Nahkoda pergerakan yang tak akan pernah berhenti sepanjang masa

 Pergerakan Takan Pernah Berhenti!!!

Pemalang -Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisariat Ki Patih Sampun STIT Pemalang menyelenggarakan agenda Rapat Tahunan Komisariat (RTK) VII  dengan mengusung tema “Pergerakan Takan Pernah Berhenti” di SMP Al-Manshuriyah Kel. Mengori Kab. Pemalang, Jum’at,(30/12/ 2022).

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) merupakan organisasi kaderisasi. Maka istilah regenerasi dalam kepengurusan merupakan hal yang wajib dilakukan. Itu semua penuh keniscayaan, dimaksudkan agar segala perjuangan, marwah dan nilai-nilai organisasi terutama di komisariat Ki Patih Sampun dapat dipertahankan dan diwariskan secara berkelanjutan kepada generasi-generasi yang komitmen dan totalitas yang diharapkan oleh mayoritas kepengurusan sebelumnya. Oleh karena itu untuk dapat mencapai hal tersebut Komisariat Ki Patih Sampun STIT Pemalang masa khidmat 2021-2022 berikhtiar penuh keyakinan menyelenggarakan Rapat Tahunan Komisariat (RTK) VII yang merupakan forum permusyawaratan tertinggi dalam PMII di tingkat Komisariat.

Rapat Tahunan Komisariat (RTK) VII PK PMII Ki Patih Sampun STIT Pemalang yang telah  terselenggarakan selama 2 hari, dari Jum’at hingga Sabtu di SMP Al-Manshuriyah merupakan momentum yang sangat vital bagi progress komisariat, kenapa hal tersebut sangat vital? Karena dengan melalui momentum tersebut akan merumuskan regulasi dan formula baru yang diraih melalui evaluasi kepengurusan sebelumnya, dan sebagai ajang dalam memilih dan menyepakati ketua komisariat yang baru. Kegiatan tersebut dihadiri oleh seluruh anggota dan kader PK PMII Ki Patih Sampun STIT Pemalang, perwakilan dari pengurus Cabang Persiapan PMII Pemalang dan segenap senior PMII Patih Sampun serta tamu undangan yang lainnya.

Pada kegiatan Rapat Tahunan  Komisariat (RTK) yang ke Tujuh ini, mengambil tema “Pergerakan Takan Pernah Berhenti” merupakan sebuah gambaran semangat dan totalitas seorang kader dalam meneruskan regenerasi selanjutnya. Hal tersebut selaras dengan prakata ketua panitia dalam kesempatan sambutan dalam pembukaan acara.

“Kegiatan yang pada hari ini dilaksanakan, yaitu Rapat Tahunan Komisariat (RTK) yang ke 7 ini merupakan momen yang sangat penting untuk kemajuan komisariat, apalagi dengan tema yang dicanangkan yaitu Pergerakan takan pernah berhenti, artinya bahwa generasi sekarang (Kader-kader) dapat menyiapkan diri, untuk dapat meneruskan pergerakannya dalam melanjutkan progress komisariat kedepan” Ucap Sahabat Anam.

Dari pernyataan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa kesiapan seorang kader dan anggota dimulai dari sekarang, baik kesiapan secara mental, relasi dan intelektual dalam meneruskan jasa ide-ide, fail (pelaku) perubahan yang nyata sehingga dapat dirasakan oleh kader-kader PK PMII Ki Patih Sampun secara komprehensif. Tentunya dalam pengembangan kader dan pemberdayaan kader yang mengarah pada peningkatan kualitas dapat dilaksanakan secara berlanjut dan terus menerus.

“Harapanya dalam kesempatan RTK kali ini, roda organisasi ini harus terus berjalan bagaimana mestinya, karena hampir 8 tahun PMII Ki Patih Sampun hadir ditengah-tengah kampus STIT Pemalang, harapan terbesar saya yaitu dalam regenerasi agar terus berjalan, tanpa berhenti sesuai dengan tema RTK VII yaitu Pergerakan Takan Pernah Berhenti” Ucap Sahabat M Adi Saputra selaku demisioner ketua PK PMII Ki Patih Sampun STIT Pemalang.

Ucapan yang serupa dari Sahabat Adi di perkuat dengan ungkapan dan sambutan dari Sahabat Syaeful Kamaludin (demisioner ketua PK PMII Ki Patih Sampun Pemalang yang pertama) dalam sambutannya memberikan sebuah motivasi yang melahirkan sebuah Ghiroh pergerakan yang membara-bara di setiap tubuh kader.

“Saya sangat terharu dan bangga melihat kader-kader aktif yang tentunya akan melaksanakan RTK, mudah-mudahan yang pertama dalam rapat ini akan menjadi forum evaluasi dan kemudian bisa dijadikan sebagai pedoman dari apa yang perlu ditingkatkan ya ditingkatkan, kemudian tantangan dan kondisi, hari ini tentunya berbeda dengan hari-hari sebelumnya, dengan melalui Inovasi dan Kreatifitas dapat menciptakan sebuah prodak gerakan yang benar-benar dapat dirasakan oleh keluarga besar PMII Ki Patih Sampun Pemalang tentunya dengan adanya kontribusi-kontribusi yang besar dari seluruh kader-kader.” Ucap Sahabat Syaeful Kamaludin.

Ungkapan yang sangat memberikan pesan yang amat mendalam disampaikan oleh demisioner ketua komisariat yang pertama kepada kader-kader yang hadir menjadi inspirasi dan motivasi dalam berpartisipasi ide dan gagasan intelektual dalam membangun sebuah pergerakan-pergerakan yang besar.

“Sebagai Kader jangan sampai meninggalkan budaya-budaya intelektual melalui peningkatan wacana dan kritis salah satunya membaca dan diskusi, karena dari hal tersebut akan lebih memantaskan diri untuk mewujudkan ide, gagasan dan gerakan yang menjadi solving atas problematika yang ada ditengah-tengah kita” Lanjutnya.

Selanjutnya disampaikan oleh senior Patih Sampun Pemalang yaitu Sahabat Anang Ma’ruf FR, yang memberikan sebuah kata-kata bijak dan analogi-analogi Ghiroh dalam bergerak yang inovatif dan reflektif bagi kemajuan komisariat, dalam sambutannya,

“RTK ini hanya sebuah Ceremonial, akan tetapi datangnya kalian pada hari ini merupakan bagian proses dalam menggali Intelektual: daya mengamati, kritis, dari segala situasi yang ada di RTK. Itu yang sangat diperlukan, yang menjadi ketua siapa itu tidak penting, yang penting kita menjalani segala proses sebelumnya dan sesudahnya artinya bahwa hari ini kita mencoba menggali dan membangun pergerakan kita yang kemungkinan besar jauh dari intelektual yang tidak hanya didapatkan pada ruang-ruan perkuliahan. Namun hari ini kita sadari semua bahwa di PMII menjadikan kita dalam berfikir secara bebas, gali serta pelajari pemikiran-pemikiran dan gagasan yang luas, lalu kemudian kembangkan dengan membentuk kelompok-kelompok dengan ide atau gagasan yang kita tuangkan didalamnya, itulah yang dinamakan sebuah proses.” Ucap Sahabat Anang Ma’ruf FR.

Setelah sambutan ketiga, tibalah sambutan dari perwakilan Cabang Persiapan PMII Pemalang, dalam hal ini diwakilkan oleh Sahabati Risma,

“Keluarkanlah semangat kalian pada kesempatan RTK yang Ke 7 kali ini, harapannya dapat berjalan dengan lancer dan dapat melahirkan prodak-prodak hokum yang nantinya akan diimplementasikan di komisariat, siapa yang menjadi ketua itu tidak menjadi persoalan yang penting yang penting proses kalian dalam melaksanakan kegiatan pada kali ini dengan dengan penuh sportifitas dan Khidmat, sehingga acara ini dapat berjalan dengan lancer” Ucap Sahabat Risma Amalia selaku perwakilan dari Cabang Persiapan PMII Pemalang

Dalam kesempatan RTK yang ke VII, respon baik diberikan oleh Cabang persiapan PMII Pemalang, dengan dibuktikan dengan pengawalan acara dari awal hingga akhir. Hal tersebut menunjukkan bahwa wujud komitmenitas pengurus dalam terus membangun dan menciptakan Ghiroh solidaritas serta sinergitas antar kader akan senantiasa terus dilestarikan dan dibudayakan untuk bersama-sama membangun perubahan. Tibalah pembukaan acara dilakukan oleh perwakilan cabang persiapan, tentunya dengan segala harapan dan keyakinan suksesnya agenda Rapat Tahunan Komisariat,

“Dengan menyebut Bismillahirrahmanirrahiim Rapat Tahunan Komisariat (RTK) VII PK PMII Ki Patih Sampun STIT Pemalang dengan tema “ Pergerakan Takan Pernah Berhenti” resmi kami buka.....” lanjutnya.

Dok. Sidang Pleno I
 

Forum Rapat Tahunan Komisariat (RTK) dimulai dengan beberapa sidang. Dari Sidang Pleno I, Pleno II, Pleno III, dan Pleno VI. Sidangan yang pertama, yaitu sidang Pleno I yaitu forum permusyawaratan atau persidangan yang membahas tentang Tata tertib persidangan. Dalam persidangan Tartib dipimpin langsung oleh kepanitiaan SC, diantara pimpinan sidang antara lain: ketua sidang yaitu Sahabati Tiara, Sekretaris sidang yaitu Sahabat Sule dan Anggota sidang yaitu Sahabat Peje. Dalam persidangan pleno I berjalan dengan lancer dan menghasilkan mufakat yang damai, dilihat dari timbulnya interaksi dari peserta sidang dengan pimpinan sidang.

Selanjutnya  yaitu sidang Pleno II yaitu Laporan Pertanggungjawaban dan Pendemisioneran pengurus masa khidmat 2021-2022, dengan dipimpin oleh Sahabat Anam sebagai Pimpinan sidang, Sahabat Adam sebagai sekretaris sidang, dan Sahabati Risti sebagai anggota sidang. Dalam sesi sidang pleno II berjalan dengan lancar, dan dalam forum tersebut banyak yang perlu di evaluasi, baik dari segi program kerja maupun kondisi-kondisi komisariat. Setelah penyampaian LPJ dan dilanjutkan pendemisioneran pengurus, sesi sidang selanjutnya yaitu Sidang pleno III yaitu sidang komisi. Dalam sidang pleno III, di bagi menjadi dua kelompok, yaitu komisi A dan komisi B. Sidang pleno III berjalan dengan lancar, walaupun didalam kelompok ada perubahan ataupun penambahan, namun hal tersebut dapat diterima dan disepakati oleh forum.

Tiba saatnya Sidang pleno IV yaitu sidang Tata tertib pemilihan ketua, yang dipimpin oleh delegasi dari cabang persiapan Pemalang, yaitu Sahabat Richo sebagai pimpinan sidang, Sahabati Risma sebagai sekretaris dan Sahabat Imam sebagai anggota. Dalam persidangan kali ini benar-benar ketat, baik dari pimpinan sidang maupun peserta sidang, dikarenakan point-point draf  pleno IV sangat menentukan siapa yang nantinya dicalonkan. Setelah pembahasan draf tartib pemilihan ketua, selanjutnya proses pencalonan kandidat bakal calon ketua komisariat. Dalam pencalonan ada 5 opsi calon kandidat, setelah itu proses penyeleksian kandidat sesuai dengan syarat-syarat yang telah disepakati pada draf sebelumnya.

Nuansa kontestasi sangat terasa dan dirasakan oleh masing-masing calon dan masing-masing pengopsipun saling menguatkan,

“...sampai-sampai lampu yang tadinya menyala, proyektor yang tadinya menampilkan, seketika itu mati total, satu jagat Mengori mati lampu, ditambah suram dengan dahsyatnya hujan mengguyur daerah setempat bercampur angin kencang....”

Hal tersebut menandakan bahwa momentum tersebut sangatlah sakral dalam kesempatan Rapat Tahunan Komisariat (RTK). Sejalan dengan kontestasi calon, pimpinan sidang pun menawarkan kepada forum terkait sesi berikutnya setelah ketentuan-ketentuan di draf sudah terpenuhi, akhirnya forum menyepakati untuk dilakukannya Lobbying pengopsi. Dalam proses lobby sebagai mediasi ditunjukklah anggota sidang, pertarungan argument antar pengopsi sangat kuat, hingga akhirnya, dari berbagai pertimbangan dan konsekuensi dengan segamblang-gamblangnya di curahkan oleh pengopsi.

Dok. Ketua Terpilih

Dari hasil mediasi proses Lobbying pengopsi, memutuskan satu calon yang terpilih, yaitu Sahabat Ikhwan Rizki Mutaqim sebagai mandataris ketua PK PMII Ki Patih Sampun STIT Pemalang masa khidmat 2022-2023.

Sebuah amanat baru yang diberikan oleh sahabat Ikhwan Rizki Mutaqim sebagai Ketua terpilih, tentunya memiliki harapan yang sangat besar untuk keberlangsungan komisariat selama satu periode, semoga segala apa yang sudah menjadi kesepakat bersama dan amanat bersama, dimudahkan oleh Allah SWT.

Untukmu satu tanah airku....

Untukmu satu keyakinanku...

Inilah kami wahai Indonesia satu angkatan dan satu jiwa...

Putera bangsa bebas merdeka....

Tangan terkepal dan maju kemuka...

Salam Pergerakan!!!

 

Penulis : Sahabat Khoirul Anam

Jeritan yang Tak Pernah Usai di Tengah Mesin Kapitalisme

Setiap tanggal 1 Mei, dunia seolah berhenti sejenak untuk mengingat satu kelompok yang selama ini justru membuat dunia terus bergerak: buruh...